Senin, 03 September 2018

Datarkah Bumi kita?

DATARKAH BUMI KITA?
Oleh: Tiffany Al-Qomariyah

Dewasa ini dongeng tentang “Bumi datar” muncul ke permukaan layaknya sebuah riset yang sudah diakui kebenarannya oleh dunia khususnya di bidang Ilmu Pengetahuan. Ada beberapa artikel dan video di internet yang membahas tentang datarnya Bumi dan menjadikan ayat-ayat Al-Qur’an sebagai penguat dongeng tersebut, pada salah satu video yang pernah penulis tonton berjudul Flath Earth Bonus: Kubah Selatan & Telur Burung Unta tertera tulisan “Heliosentrik: Ajaran Pagan (Musyrik)” dan mengatakan “teori musyrik inilah yang dikembangkan oleh Sains Modern”. Dalam video tersebut juga dituliskan bahwa “mengabaikan Al-Qur’an dan menerima teori Modern adalah hal yang tak boleh dilakukan oleh seorang Muslim. Bumi itu datar. Yang mengatakan Bumi itu bulat adalah Atheis yang patut mendapat hukuman”.[1]
Tujuan penulis membuat artikel ini yaitu mengajak pembaca untuk lebih membuka jalan pikirnya bahwa seharusnya agama tidak dijadikan alat untuk memprovokasi banyak orang agar sependapat terhadap suatu statement, menjual dalil-dalil agama untuk suatu teori yang belum teruji kebenarannya sehingga menutup jalan pikir pembaca untuk terbuka terhadap Sains Modern karena dianggap tidak sejalan dengan ajaran Agama. Ilmuwan terdahulu berhasil membuat teori-teori fisika tentang alam ini berdasarkan sebuah riset yang sudah diuji berkali-kali dan diakui dunia, suatu teori dikatakan kurang tepat jika ada teori lainnya yang dapat mematahkan teori sebelumnya kemudian dijadikan hukum paten yang sampai hari ini masih dipergunakan dalam pembelajaran.
T.Djamaludin yang merupakan Profesor Riset Astronomi-Astrofisika LAPAN dalam bukunya yang berjudul Semesta pun Berthawaf mengatakan “Akhir-akhir ini, banyak yang mempertanyakan bentuk bumi, datar atau bulat? Banyak juga yang mempercayai “teori” bumi datar, yang sebenarnya lebih cocok disebut dongeng, karena tidak memiliki landasan ilmiah.”[2] T.Djamaludin mengatakan bahwa pandangan Bumi datar terlalu mengada-ada. “Itu Pseudosais” katanya. “Orang-orang awam mempercayainya karena seolah-seolah pandangan itu ilmiah padahal sebenarnya tidak ada dasarnya sama sekali.”[3]
Dalam dongeng Bumi datar, posisi Matahari dekat dengan Bumi karena sinar Matahari dan Bulan terlihat lebih terang di awan sekitar mereka dibandingkan awan yang lebih jauh. Sebenarnya, Matahari berada sejauh 150 juta km dari Bumi, sementara jarak Bulan ke Bumi sekitar 384.000 km. Cahaya yang mengenai awan dekat lebih terang daripada awan jauh karena itu cahaya pantulan. Sinar Matahari menembus awan yang terlihat bersudut, tidak serupa garis sejajar, juga tidak menunjukkan jarak yang dekat. Bentuk menyudut yang terpusat pada Matahari menunjukkan bahwa berkas cahaya Matahari lurus dan sejajar karena Matahari sangat jauh.[4]
Pada awal peradaban Yunani Kuno, banyak juga sebenarnya pemikir-pemikir yang sudah mulai rasional, tapi masih berkesimpulan bahwa bumi itu datar. Misalnya, Thales berpendapat bahwa bumi berbentuk datar dan mengambang di air. Bumi ibarat kayu yang mengambang di tengah lautan. Anaximander meyakini bahwa bumi berbentuk silinder pendek dengan permukaan datar dan mengambang di udara. Anaximenes percaya bahwa benda-benda langit berbentuk datar, dan kemungkinan besar dia juga berpikir bumi berbentuk datar. Tetapi, yang membedakan argumen para pemikir di Yunani Kuno dengan sebelum-sebelumnya adalah mereka sudah mulai berargumen berdasarkan pengamatan yang mereka lakukan, meskipun belum sempurna. Dengan kultur semacam itu, lahirlah tokoh seperti Aristoteles. Dia menyadari bahwa gerhana bulan disebabkan oleh Bumi yang berada diantara Bulan dan Matahari. Bayangan Bumi pada permukaan Bulan selalu bundar. Hal ini hanya mungkin bila Bumi bulat. Apabila Bumi datar, maka bayangannya lonjong dan hanya bulat apabila Bulan berada di atas ubun-ubun. Dari perjalanan yang pernah dilakukan, orang-orang Yunani mengetahui bahwa Bintang Utara tampak lebih rendah di langit bila pengamat berada lebih ke selatan (karena terletak di atas kutub Utara). Bintang Utara berada tepat di atas ubun-ubun seorang pengamat di Kutub Utara, dan di atas horizon bila ia di khatulistiwa). Hal ini hanya mungkin bila Bumi bulat. Dari bukti-bukti tersebut, Aristoteles menyimpulkan bahwa bentuk bumi adalah bulat. Gagasan Aristoteles tersebut disepakati oleh filsuf-filsuf setelahnya seperti Eratosthenes, Euclid, Aristarchus, dan Archimedes. Eratosthenes bahkan berhasil mengukur keliling bumi menggunakan tongkat yang terletak di dua tempat yg berbeda. Dia memanfaatkan perbedaan bayangan antara dua tongkat tersebut akibat lengkung bumi untuk mengukur keliling total.[5]
Di Youtube bertebaran video seolah-olah ajaran Islam mendukung Bumi datar dengan mengutip ayat yang menyebutkan Bumi menghampar. Tentu ini klaim berbahaya. Padahal, kalau membuka lembaran sejarah, justru para Ilmuwan muslim yang memastikan Bumi itu bulat pada abad ke-10 atau 6 abad lebih cepat dari Sir Francis Darke pada 1577, yang mengelilingi Bumi untuk membuktikan Bumi itu bulat. Ilmuwan itu adalah Abu Rayhan al-Biruni (973-1048) yang hidup pada masa Khalifah Abbasiyah. Dia adalah ahli fisika, matematika, astronomi, sejarah, geologi, filsafat, geografi dan ilmu alam lainnya. Al-Biruni menggunakan alat ukur derajat bintang yang disebut Astrolabe untuk menentukan Bumi itu bulat bahkan mengukur diameter Bumi.[6]
Ada beberapa ayat Al-Qur’an yang biasa digunakan untuk memperkuat argument bahwa Bumi datar, diantaranya yaitu:

“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran.” (Al-Hijr:19)



“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (Al-Baqarah:22)


“Bukankah Kami telah menjadikan Bumi itu sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak?” (Al-Naba’: 6-7)


“Dan Bumi bagaimana ia dihamparkan? (Al-Ghâsyiyah:20) [7]
Namun, jika kita memahami makna dariayat-ayat Al-Qur’an di atas sesuai konteks, maka akan berbeda. Kata madadna (Al-Hijr:19) “Kami hamparkan Bumi” atau “Kami bentangkan”. Artinya, bila kita pergi ke negeri mana pun di dunia, misalnya, kita akan melihat tanah di depan kita rata dan terhampar, dan itu mustahil terjadi bila bukan karena Bumi berbentuk bulat. Andaikata Bumi berbentuk kotak, segitiga, segienam, atau bentuk geometris apa saja selain bulat, kita pasti takkan melihat hamparan tanah di depan kita, melainkan tepi atau pinggiran Bumi dan kemudian di angkasa. Satu-satunya bentuk geometris yang memungkinkan tanah di depan kita rata dan terhampar – di mana pun kita menginjakkan kaki – adalah bentuk bulat. [8] Al-Baqarah:22 Firasyan bermakna hamparan tempat istirahat, bukan dalam makna keseluruhan Bumi datar. Al-Naba: 6 Mihadan bermakna ‘hamparan tempat istirahat’, bukan keseluruhan permukaan Bumi karena pada ayat selanjutnya disebutkan juga ada gunung-gunung. [9]
Allah telah menciptakan malam dan siang dalam bentuk saling menutup satu sama lain. Mengingat malam dan siang sama-sama didapati di atas permukaan Bumi, keduanya mustahil bila saling menutup satu sama lain bila bukan karena bentuk Bumi yang bulat; setengahnya gelap dan setengahnya lagi terang, sesuai dengan Surah Al-Zumar:5 “Dia menciptakan langit dan Bumi dengan (tujuan) yang benar. Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam. Dia menundukkan matahari dan bulan, masing-masing beredar menurut waktu yang ditentukan. Ingatlah, Dialah Yang Mahamulia, Maha Pengampun.”[10]
Dari berbagai penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa penemuan-penemuan Sains mengenai Bumi bulat tidaklah bertentangan dengan Ayat Al-Qur’an ketika kita memaknai arti dari ayat-ayat Al-Qur’an dengan cara pandang yang tepat. Seperti yang sudah dipaparkan sebelumnya mengenai pergantian siang dan malam, bahwa sesungguhnya maksud dari siang berganti malam bukanlah arti sebenarnya, siang hilang dan berganti malam dan malam hilang berganti siang, namun siang dan malam sudah ada dan tetap ada pada posisinya, setengah siang dan setengah malam dan hal ini hanya bisa terjadi jika Bumi berbentuk bulat, karena Bumilah yang berputar pada porosnya dan pada garis edarnya. Ayat-ayat Al-Qur’an justru menguatkan teori-teori Sains modern mengenai bentuk Bumi yang bulat, jadi tidak ada konspirasi dari pihak manapun untuk membuat seseorang menjadi jauh dari keimanannya atau menjadikan seseorang itu kafir karena mempercayai Bumi itu bulat. Bukan karena Ilmuwan tersebut berasal dari Barat kemudian penemuannya bertentangan dengan Al-Qur’an karena Ilmuwan melakukan riset atas penemuannya sebelum akhirnya ditetapkan menjadi teori yang diakui di masyarakat bahkan seluruh dunia dan jika melihat dari sejarahnya, Ilmuwan muslimlah yang justru lebih dulu melakukan penelitian ilmiah dan menetapkan teori bumi bulat.
Editor: @salmafjr
Referensi:
[1] https://www.youtube.com/watch?v=b_Ps4TD7E6w&t=22s
[2] T.Djamaludin,”Semesta pun Berthawaf”,Mizan,Jakarta:2018,hal.56
[3]https://www.google.co.id/amp/s/amp.kompas.com/sains/read/2016/07/11/20475291/mana.pandangan.yang.layak.dipercaya.bumi.bulat.atau.bumi.datar.
[4] T.Djamaludin,”Semesta pun Berthawaf”,Mizan,Jakarta:2018,hal.61
[5] https://www.kompasiana.com/abdulyasin/5983d45b1c7e122240256d42/bumi-datar-vs-bumi-bulat-sudah-masuk-dalam-perdebatan-agama?page=all
[6]https://m.detik.com/news/berita/3580882/kisah-al-biruni-ilmuwan-muslim-yang-mengukur-bumi-bulat
[7]https://www.eramuslim.com/berita/laporan-khusus/bentuk-bumi-menurut-al-quran-1.htm#.W4ZZBM4zbIV
[8] Dr.Nadiah Thayyarah,”Buku Pintar Sains dalam Al-Qur’an”,Zaman,Jakarta:2014,hal.543-454
[9] T.Djamaludin,”Semesta pun Berthawaf”,Mizan,Jakarta:2018,hal.69-70
[10] Dr.Nadiah Thayyarah,”Buku Pintar Sains dalam Al-Qur’an”,Zaman,Jakarta:2014,hal.454

Jumat, 31 Juli 2015

Bulan & Langit Malam

Malam indah kala bulan benderang ditemani dengan langit malamnya. Langit pekat yang setia menemani sang bulan. Langit gelap yang selalu menghiasi hari hari sang bulan. Sinisme menjadi hal yang wajar kala langit gelap hadir bersama sang bulan, bisik bisik para makhluk yang mengungkapkan ketidak sukaannya terhadap langit gelap yang mendampingi sang bulan, pertanda buruk ujarnya. Namun sang bulan masih asik dan tenang bersama langit malamnya, merajut kasih menuai cinta. Bukankah menjadi sebuah keserasian bila melihat bulan ditemani gelapnya malam? Indah nan sejuk dipandang. Lalu apa yang menjadi suatu kekhawatiran? Apa itu menandakan sebuah kecemburuan para makhluk? Makhluk yang cemburu melihat bulan dan langit malamnya bersatu, membuat kisah cintanya sendiri. Silahkan pandangi satu kesatuan itu, indah bukan? Tidak mengganggu bukan? Maka biarlah sang bulan dan langit malamnya bermesraan, merangkai ceritanya sendiri hingga bahagia di dapatnya. Biar bulan tetap terangi malam malam kita dengan ditemani pekatnya langit malam yang senantiasa di sekelilingnya.

Minggu, 12 April 2015

Artikel panel Si Bulan dan Matahari

TUHAN CIPTAKAN NUKLIR DENGAN SEGALA KELEBIHANNYA[1]

Ketika mendengar hal-hal berkaitan dengan nuklir maka yang ada dikepala pikiran banyak orang adalah sesuatu yang berbahaya, selalu berkaitan dengan bom, dan bisa mematikan. Hal tersebut tidak salah namun hal itu akan terjadi jika manusia yang dikendalikan oleh nuklir itu sendiri, sedangkan jika manusia mampu memanfaatkan dan mengendalikan nuklir maka nuklir dapat dijadikan pemanfaatan sesuai yang diinginkan oleh manusia itu sendiri. Hal inilah yang dibuktikan oleh BATAN (Badan Tenaga Atom Nasional)
Badan Tenaga Atom Nasional atau yang biasa disebut BATAN adalah satu satunya tempat di Indonesia yang menjadi tempat diolahnya uranium menjadi sebuah nuklir. Nuklir di Indonesia diperoleh dari hasil tambang Uranium di Kalimantan. Banyak sekali manfaat yang bisa diperoleh dari pengelolaan uranium ini, seperti dalam hal kesehatan dan pertanian.  Namun belum banyak masyarakat yang metahui dan memahami bahwa nuklir tidak berbahaya selama kita menggunakannya dalam kapasitas yang aman dan sesuai aturan.
Indonesia merupakan salah satu negara yang tidak memanfaatkan nuklir dalam hal persenjataan hal ini dikarena dahulu Indonesia dan beberapa negara lainnya telah menandatangani sebuah perjanjian hitam diatas putih untuk tidak mengelola nuklir ini sebagai persenjataan. Dan nuklir hanya diolah dan dimanfaatkan untuk mensejahterakaan rakyat dan untuk kebutuhan rakyat.
Saat ini pun pihak BATAN sedang melakukan proses untuk membuat PLTN atau Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir agar bisa dipakai di seluruh Indonesia. Namun masih harus berusaha terutama dalam hal sosialisasi kepada masyarakat karena paradigma masyarakat yang masih menganggap bahwa nuklir terlalu berbahaya untuk kehidupan. Namun pembentukan PLTN ini sudah mulai didukung salah satunya oleh Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Indonseia seperti yang di muat dalam sebuah berita.
Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Muhammad Nasir bertekad untuk mewujudkan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Nasir tidak ingin pembangunan PLTN di Indonesia tertunda apalagi batal, sehingga kalah bersaing dari negara-negara seperti Bangladesh dan Vietnam.  “Kalau tidak bangun sekarang, nanti kalah bersaing. Bangladesh sudah bangun, Vietnam juga bangun. Kalau Indonesia tidak membangun, jadi negara terbelakang,” kata dia usai menghadiri perayaan Dies Natalis Universitas Negeri Semarang di kampus Sekarang.[2] 
Pernyataan Muhammad Nasir diperkuat oleh salah seorang Guru Besar Universitas Diponegoro itu, keberadaan PLTN penting untuk kepentingan rakyat Indonesia. Jika masyarakat Indonesia masih tetap menolak pendirian PLTN, pihaknya berjanji akan menjelaskan secara sabar ke masyarakat terkait pentingnya nuklir. Nuklir pun, kata dia, telah menjadi kebutuhan dunia, bukan saja Indonesia saja. Untuk saat ini, pihaknya akan melakukann koordinasi terkait dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral serta Badan Perencanaan Nasional untuk penentuan lokasi. 
Di BATAN inilah salah satu tempat orang-orang cerdas yang mampu mengendalikan nuklir agar mampu dimanfaatkan dengan sebaik mungkin, tempat mengelola biji-biji uranium menjadi nuklir yang dapat dimanfaatkan bagi kehidupan manusia, bahkan efek-efek yang mampu membahayakan keselamatan manusia diminimalisir dan dibuat seaman mungkin dalam pengelolaannya, agar semuanya terlihat rapi. Hal ditu dpat terlihat dari pemantauan reaktor yang dilaksanakan selama 1 x 24 jam terlebih jika reaktor sedang bekerja, kemudian sisi-sisi dari tiap bangunannyapun dirancang sedemikian rupa untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,selain itu limbah-limbah dari radioaktif inipun dikelola dengan sebaik-baiknya, dan dirancang agar dapat aman dari jangkauan manusia dan tidak membahayakan bagi manusia.
Setiap alat yang terdapat didalamnya seolah-olah terancang tanpa ada kecacatan atau kekurangan sedikitpun, semuanya dapat bekerja dengan baik dan  mampu menghasilkan sebuah ketakjupan bagi mereka yang belum paham tentang nuklir itu sendiri. Selain itu para pekerja yang bertugas mengendalikan alat dan para ilmuan yang terus memantau reaktor setiap harinya merupakan kumpulan dari orang-orang cerdas dan orang-orang yang berani untuk mengambil resiko besar, dan pastinya orang-orang yang tak jenuh untuk berfikir. Hal ini pula yang dapat dijadikan hal yang menakjubkan untuk dipahami dan direnungkan bagi setiap manusia.
Al-Quran memerintahkan manusia untuk merenungi kejadian-kejadian dialam semesta. Perenungan itu disatu sisi akan mengantarakannya pada pengenalan yang semakan baik akan keagungan Sang Pencipta dan di sisilain, pada penguasaaan ilmu dan teknologi bagi kesejahteraan dan kelestarian manusia dibumi[3].
Dari pemaparan diatas bahwasanya kekaguman yang dapat dari pengelolaan biji-biji uranium menjadi sebuah nuklir yang mampu dimanfaatkan dengan baik dapat dijadikan sebuah renungan yang baik sebagai renungan atas ciptaan-Nya yang begitu mengagumkan. Selain itu dapat dijadikan motivasi untuk terus menuntut ilmu dan membuka wawasan untuk lebih bersyukur atas limpahan karunia-Nya. Dan hal yang paling penting adalah Allah Swt tidak akan menciptakan segala sesuatu dengan sia-sia, atau dengan tanpa alasan.




[1] Ditulis oleh Tiffany Al-Qomariyah & Lisa Nur Hikmawati, mahasiswi semester 6 program studi pendidikan fisika
[2] KOMPAS.com – Semarang, Senin (30/3/2015)
[3] Agus Purwanto,”Ayat-ayat Semesta, sisi Al-Quran yang terlupakan”,Mizan,Jakarta:2008,hal.3

Sabtu, 14 Maret 2015

Lahirnya Sang Rembulan

Aku pernah begitu jauh dari kehidupan. Menganggap bahwa hidupku hanya sebatas menjalankan apa yang sudah ada, tidak memikirkan kenapa aku lahir, kenapa aku diciptakan, kenapa harus aku yang ada di bumi dan untuk apa semua ini? Menjalankan keseharian sebagai seorang anak perempuan dan menyandang nama TIFFANY AL - QOMARIYAH. Siapa aku?
Sampai akhirnya aku mulai berpijak pada satu tempat dimana pada mulanya aku merasa ini hanya sebatas tempat yang takkan ku singgahi, aku kan terus berjalan melewati tempat ini. Namun tidak begitu kenyataannya, di tempat ini lah aku mulai bangun dari tidurku yang lelap, mencari jawaban atas diriku, mencari jawab atas semua pertanyaan - pertanyaan yang menggelisahkan. Disinilah aku diajak untuk mengenal kehidupan, mengenal permasalahan dan mengenal jalan keluarnya. Langkah demi langkah aku lalui, tidak banyak yang sudah ku alami, namun satu bait perjalan pun selalu menjadi makna bahkan dalam setiap perjalanannya akan selalu terselip makna.
Sungguh romantis tempat ini. Tempatku menyelam dan mencari tahu teka - teki kehidupan. Tempatku mengenal banyak karakter dari asal usul yang berbeda. Tempaktku berlatih tuk mengasah senjataku. Tempatku yang rindang karna akan selalu ada tunas - tunas yang tumbuh besar di dalamnya.
51 tahun sudah tempat ini banyak di singgahi. Semoga kan tetap kokoh berdiri layaknya pohon oak yang tak gentar di terpa angin. Karena idealis Sang Penghuni yang kan teguh berjuang dengan perisai pena sebagai salah satu senjatanya. Abadi perjuangan.
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah. 140364-140315

Rabu, 11 Maret 2015

Keadilan dan Kesetaraan Gender

Tulisan ini adalah hasil diskusi antara aku dan sahabtku, Lisa. kami di minta untuk membuat makalah mengenai keadilan dan kesetaraan gender sebagai tugas dari mata kuliah Muamalah.
Permasalahan gender begitu ramai di perbincangkan dan di persoalkan, seolah tiada henti karena masih banyak masyarakat yang beranggapan bahwa gender identik dengan perempuan. Kekeliruan akan hal gender menjadi sebuah legitimasi yang dirasa merugikan untuk kaum perempuan. 
Berikut kiranya isi dari makalah yang kami buat, semoga menjadi manfaat untuk yang membacanya.

A.    BIAS GENDER
1.     Gender
Kata gender dalam kamus pada umumnya sama dengan jenis kelamin (sex). Namun dalam konsepnya berbeda, gender tidak sama degan jeis kelamin (sex). Jenis kelamin (sex) disebut juga organ kelamin atau alat reproduksi, mengacu pada ciri kelamin, yang dimiliki secara biologis oleh manusia. Penis, scotrum, testis dan prostat merupakan ciri khas jenis kelamin (seks) primer yang dimiliki laki – laki yang berfungsi biologis seperti memproduksi sperma, membuahi dan menghamili. Bulu dada, tangan atau kaki yang lebat, jakun, suara berat, postur tubuh besar dan tegap dan berkumis merupakan ciri khas sekunder laki – laki. Vagina, ovarium, ovum dan uterus merupakan ciri jenis kelamin (sex) primer yang dimiliki perempuan. Yang berfungsi biologis seperti haid, hamil dan melahirkan. Kulit halus, suara lebih lembut atau bernada tinggi, payudara besar, postur tubuh lebih kecil merupakan ciri khas sekunder perempuan. Jenis kelamin (sex) merupakan takdir, mutlak atau given dari Allah.
Gender mengacu pada sifat – sifat yang disandang oleh masyarakat kepada laki – laki dan perempuan secara berbeda. Sifat seperti emosional, lembut, pemalu, penakut dan sabar dilekatkan kepada jenis perempuan (feminim). Sedangkan sifat rasional, kuat, perkasa, berani dan pelindung ditempelkan kepada jenis laki – laki (maskulin). Sifat – sifat demikian dapat diubah, diusahakan atau dibentuk oleh manusia melalui pendidikan, latihan atau rekayasa.

2.     Bias gender dalam pendidikan
Sebagaimana yang kita tahu bahwasanya pada jaman dahulu perempuan dilarang bersekolah hal itu dikarenakan keterbatasan pola pemikiran orang-orang pada masa itu yang menganggap bahwa perempuan nantinya hanya akan bergelut dalam 3 hal yaitu hal-hal yang berhubungan dengan dapur, kasur, dan sumur. Hal inilah yang mejadi batasan sehingga pada saat itu perempuan tidak memiliki hak untuk menerima pendidikan yang layak sebagaimana yang diterima oleh laki-laki yang dapat bersekolah dengan bebas. Sejak R.A Kartini memperjuangkan pendidikan kaum perempuan sehingga menerbitkan buku habis gelap terbitlah terang barulah pada saat itu kaum perempuan memiliki celah untuk menerima pendidikan yang dapat kita rasakan hal itu hingga saat ini, dimana perempuan dan laki-laki mampu duduk dalam satu ruangan yang sama dan menerima pembelajaran yang sama pula. Hal ini pada dasarnya sesuai dengan hadist Nabi Muhammad Saw yang artinya menuntut ilmu adalah wajib bagi setiap kaum muslim laki-laki maupun muslim perempuan, hadist ini jelas menyatakan bahwa tidak hanya laki-laki yang harus menerima pendidikan, tetapi perempuanpun diwajibkan untuk menuntuk ilmu dan menerima sebuah pendidikan yang layak sebagaimana yang diterima oleh kaum laki-laki.
Rosulullah Saw ketika hendak mengawini Sayyidatina Hafsah binti Umar r.a, ketika itu ia sedang kursus kepada guru wanita untuk belajar membaca dan menulis. Karena ia dipinang oleh Nabi Saw, Umar bin Khattab segera menghentikannya, maka Nabi Saw memohon kepada sang ayang agar membiarkan putrinya melanjutkan proses belajarnya, sabdanya,”ajarkan kepadanya ilmu-ilmu yang lain!” maka jawab Umar,”sudah cukup”, Sabda Rasullah lagi,”Biar mahir dan baik!”[1]
Namun sangat disayangkan apabila diera yang telah memasuki era moderen ini masih ada pula manusia-manusia yang memiliki pemikiran yang kuno terhadap pendidikan seorang perempuan, bahkan hingga terlontar kata-kata “tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, nanti juga kerjaannya dirumah, beres-beres rumah dan mengasuh anak” ada yang salah dalam pernyataan tersebut yang seolah-olah menyatakan bahwa mengerjakan pekerjaan ibu rumah tangga, mengatur pembelanjaan, bahkan mengurus anak-anak dirumah dapat dilakukan dengan seenaknya, tidak memiliki pendidikan dan keilmuan yang cukuppun tidak ada masalah. Jika seseorang yang memiliki pemikiran panjang dan memiliki arah pemikiran kedepan maka hal tersebut seharusnya sudah bukan lagi menjadi prinsip hidup, karena sesungguhnya menjadi ibu rumah tangga akan menjadi lebih baik jika yang menjadi ibu rumah tangga memiliki pendidikan dan asupan keilmuan yang baik pula, singga nantinya dapat mengontrol keuangan dengan baik, dapat menghendle pekerjaan rumah dengan baik, dapat menempatkan dirinya dengan baik, bahkan dapat menjadi ibu yang baik pula hal inilah yang terpenting karena ibu adalah sekolah yang paling awal maka kecerdasan seorang ibu seharusnya kelak akan dapat mempengaruhi kecerdasan anak dimasa mendatang.

3.     Bias gender dalam persoalan sosial
Secara kuantitatif jumlah perempuan adalah separo dari mayarakat dunia, namun dalam hal pengaruhnya bagi suami, anak, seoarang perempuan lebih dari separo. Banyak orang bijak mengatakan bahwa di balik kesuksesan laki – laki pasti ada wanita hebat yang mendampinginya. Ada pula penyair yang mengatakan “jikalau kau tempatkan ibu sebagai seorang pengajar, maka kau akan melihat suatu bangsa yang harum namanya”. Namun tidak sedikit pula yang memandang sinis dan negatif seorang perempuan. Bagi mereka yang memandang rendah seorang perempuan akan mengatakan bahwa perempuan adalah pembawa sial, tidak bermanfaat bahkan hanya sebagai penghias dunia yang bisa di permainkan begitu saja.
           Sebagian orang masih beranggapan bahwa wanita merupakan perangkat setan dan ranjau iblis dalam menyesatkan manusia, disamping dipandang sebagai manusia yang kurang akal dan kurang dalam segi agamanya.[2] Anggapan yang menyakiti kaum wanita tersebut mulai muncul karena ada Hadist shahih dari Imam Bukhari. Hadist tersebut mengatakan bahwa pada saat Rasulullah berangkat untuk salat Idul Adha atau Idul Fitri Beliau menjumpai wanita dan berkata “Wahai para wanita, aku beritahu kepadamu kebanyakan kamu sekalian adalah ahli neraka”. “Mengapa demikian Rasul?”. Rasul menjawab “Karena banyak dari kalian yang melakukan perbuatan yang dibenci Allah SWT. Aku tidak pernah melihat perempuan yang kurang akal dan kurang agama daripada salah seorang dari kamu”. Kemudian mereka menjawab: “Dimana letak kurangnya akal dan agama kami?”. Rasul menjawab: “Bukankah kesaksian satu wanita setara dengan separo dari kesaksian satu laki – laki?” Mereka menjawab: “Betul”. “Maka disitulah kurang akalnya.” Rasul bertanya kembali: “Bukankah wanita mengalami haid?”. Mereka menjawab: “Betul”. Maka di situlah kurang agamanya seorang wanita.
           Hadist tersebut jika ditelaah secara kritis, mengandung banyak makna diantaranya petunjuk Nabi Muhammad saw. di relevansikan dengan situasi pada saat itu yang mana sekelompok wanita yang berbicara dengan Rasul adalah wanita – wanita Madinah yang sebagian besar dari kalangan Anshar yang dinilai kurang menghormati suaminya. Adapun jika dilihat dari sisi rangkaian kalimatnya, itu bukan sebuah penegasan kaidah yang berlaku atau hukum umum, melainkan hanya sebuah pernyataan yang terkait dengan kondisi masyarakat pada saat itu. Kemudian perbincangan itupun merupakan pendekatan awal dalam memberi peringatan khusus kepada kaum wanita mengenai posisi perempuan dalam kesaksian sesuai surat Al – Baqarah ayat 282 “jika tak ada dua orang lelaki, maka boleh seorang laki – laki dan dua orang perempuan dari saksi yang kamu ridai, jika seorang lupa, maka seorang lagi mengingatkannya.
           Ayat ini menyatakan bahwa kesaksian dua perempuan sama dengan kesaksian satu orang laki – laki. Jika satu orang perempuan yang satu lupa, maka satu orang lainnya bisa mengingatkannya. Itu adalah kelemahan wanita, namun bukan kelemahan dalam keadilannya yang berarti keadilan wanita sederajat dengan laki – laki. Karena pada saat itu, wanita kurang mendapatkan pendidikan. Wanita tidak memiliki kesempatan sekolah seperti laki- laki.

B.    KESETARAAN PRIA DENGAN PEREMPUAN
Hal yang paling sering dilupakan setiap orang yang menjunjung tinggi nilai-nilai gender ini adalah bahwasanya baik laki-laki maupun perempuan sama-sama memiliki hak dan kewajibannya masing-masing, laki-laki dan perempuan memiliki hakikat yang sama yaitu hakikat sebagai seorang manusia dan seorang hamba, dimana dalam hakikat fungsional sebagai manusia yaitu sebagai khalifah dimuka bumi sebagaimana firman Allah SWT yang artinya Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah dibumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah disana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman,”sungguh Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”(Q.S Al-Baqarah : 30).  Selain itu laki-laki dan perempuan juga akan diminta pertanggung jawaban dari setiap apa yang dilakukannya sebagaimana sabda Rosulullah Saw yang artinya orang laki-laki itu sebagai pengembala dan akan dipertanyakan tentang gembalaanya, dan orang perempuan itu penggembala dan akan dipertanyakan tentang gembalaanya , yang diperkuat pula oleh firman Allah SWT yang artinya Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya Kami akan memberikannya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya Kami akan beri balasan kepada mereka dengan pahala yang baik dari apa ynag telah mereka kerjakan (Q.S An-Nahl : 97). Dan hal yang paling tidak boleh dilupakan yaitu hakikat manusia sebagai hamba yang sama-sama memiliki tugas beribadah kepada Tuhannya, sebagaimana firman Allah SWT yang artinya tidak akan aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku (Q.S
Ayat-ayat dan hadist diatas tidak ada yang memposisikan perempuan dan laki-laki secara terpisah, bahkan membeda-bedakan yang ini yang layak untuk dijadikan seorang khalifah maka yang lain dianggap tidak layak karena pada ayat-ayat dan hadist diatas sangat tertera jelas bahwa yang disebutkan adalah manusia ataupun laki-laki dan perempuan bukan mengatas namakan salah satu dari keduanya. Dalam penciptaanyapun diciptakan dalam satu kerangka dan memiliki bahan penciptaan yang sama yaitu berasal dari saripatih tanah dan mengalami proses pembuahan dan perkembangan yang sama didalam rahim yang nantinya akan lahir keduniapun dalam struktur dan kerangka tubuh yang sama kecuali mereka yang memiliki kelainan.
Dalam hal yang lebih spesifik adalah dalam hal pemikiran yaitu bahwasanya laki-laki dan perempuan memiliki kapasitas otak yang sama dan kemampuan untuk berfikir dan berinovasi yang sama dengan laki-laki.
Jikalau wanita diberi kesempatan untuk berinovasi maka ia akan mampu melakukannya. Jika wanita diberi haknya untuk berfikir, niscaya ia pun akan produktif. Jika dikatakan kepada wanit,”ini lapangan aktivitasmu”,  maka a akan bangkit dan mampu mewujudkan programnya satu persatu.[3]

C.    PEREMPUAN BERADA DIPERMUKAAN
Hari ini keberadaan perempuan tidaklah dapat dipandangan dengan sebelah mata, karena keberadaannya yang saat ini telah mampu bersanding dengan laki-laki dalam berbagai hal, baik dalam hal perpolitikan, pendidikan, perekonomian, olahraga dan kesenian, sosial, bahkan dalam hal militerpun perempuan telah memiliki tempat disana. Hal ini menujukan bahwa tidak ada alasan lagi untuk mendudukan laki-laki dan perempuan ditempat yang berebeda, keberadaan perempuan saat ini yang telah banyak menunjukan bahwasanya laki-laki dan perempuan memiliki kapasitas berfikir yang sama dan memiliki kemampuan untuk melakukan berubahan yang sama, dan hal inilah yang menbuah kaum perempuan kini mampu duduk bersanding oleh kaum laki-laki dalam berbagai hal.
 Begitu banyak contoh-contoh perjuangan perempuan yang menujukan atas kemampuan kaum perempuan yang memiliki kesempatan dan hak yang sama dengan kaum laki-laki diantaranya adalah seorang snipper wanita yang handal diperang Suriah, yang pada saat itu sedang mengalami perang saudara yang membuat kondisi Suriah pada saat itu benar-benar carut-marut. Perempuan ini bernama Jifara, ia adalah wanita siruah kelahiran palestina 36 tahun. Namun, siapa sangka jika wanita cantik ini telah berhasil menumbangkan sejumlah pasukan loyalis Assad dengan peluru senapannya.[4] Jifari ini dapat dijadikan contoh kesetaraan antara perempuan dengan laki-laki dikancah militer, Jifari telah menepis semua pemikiran menstrim yang ada bahwa pekerjaan menembak hanya dapat dilakukakn oleh kaum laki-laki saja, dan dalam hal ini Jifari menunjukan bahwa kemahiran dan kecerdasan serta kecepatan yang dimiliki oleh sniper laki-lakipun dapat dimiliki oleh perempuan. Dalam hal militer khususnya dalam aktivitas tembak-menembak Jifari tisak sendiri terdapat pula beberapa sniper wanita lainnya diantaranya adalah Lyud,ila Pavlichenko, Libo Rugo, Olga Vasilyeva, Natali Kovshova, Maria Polivanova, Inna Mudretsova, Nina Petrova, Tatyana Kostyrina, dan 34 sniper wanita lainnya. Pejuang perempuanpuan telah ada sejak jaman Rasulullahpun terdapat beberapa perempuan yang telah ikut berjuang dalam perang yaitu Nusaibah binti Ka’ab, ia adalah perempuan dari golongan ansar yang apada saat itu ikut berjuang dalam perang Uhud, dimana pada saat itu ia benar-benar berjuang demi kemenagan Islam tanpa mempedulikan dirinya lagi dan tanpa memandang bahwa ia adalah seorang perempuanRasulullah Saw mengatakan bahwa,”tidaklah aku melihat kekanan dan kekiri pada pertempuran Uhud kecuali aku melihat Nusaibah binti Ka’ab berperang membelaku”[5]
Ada pula seorang ibu yang sangat dapat dijadikan contoh yang sangat baik ia adalah bibi dari Rasulullah Saw yaitu Shafiyah, Syafiyah telah berhasil mendidik putranya dengan baik sehingga putranya yang bernama Zubair bin Awwam menjadi seorang pahlawan.
Zubair termasuk dalam daftar 10 orang sahabat yang dijanjikan surga. Bahkan, khalifah Umar bin Khattab menjadikan satu dari empat orang yang dikirim untuk membantu pasukan Islam dibawah komando Amru bin Ash saat membebaskan Mesir dari cengkeraman Romawi. Dalam satu suratnya, Khalifah Umar bin Khattab mengatakan bahwa empat orang utusan ini memiliki kekuatan yang sama dengan 1000 orang![6]
Dalam kisah yang dialami Zubair dapat kita teladani bahwasanya menjadi seorang ibupun haruslah menjadi seorang ibu yang beriman kepada apa-apa yang seharusnya diimani,cerdas, berprinsip, dan berakhlakul karimah,agar dapat membimbing anaknya dengan tegas namun tetap dengan limpahan kasih sayang yang tulus.
Selain itu banyak pula nama-nama pejuang perempuan dari Indonesia diantaranya adalah Cut Nyakdien yaitu pejuang kemerdekaan dari kota Aceh, Laksamana malahayati yaitu pejuang dari tanah serambi mekkah pula, namun Laksamana Malahayati telah lebih dulu berjuang jika dibandingkan dengan Cut Nyakdien. Laksamana Malahayati adalah wanita yang mendapat julukan The First Woman Admiral dikarenakan ialah perempuan pertama yang mendapatkan gelar Laksaman atau Admiral yang telah membawahi 2000 pasukan dan 100 kapal (galey).
D.    WACANA KEADILAN GENDER DALAM ISLAM
Dalam tradisi bangsa semit, laki – laki selalu dianggap superior, bahkan Tuhan pun di bayangkan sebagai laki – laki karenanya budaya patriarkhi sangatlah kuat. Namun ketika Nabi Muhammad saw berkuasa, aktivitas yang di lakukan perempuan sangat beragam. Misalnya saja istri Rasul yaitu Aisyah, beliau menjadi seorang ahli agama yang menjadi tempat bertanya teman laki – laki dan peremuan, beliau seorang politikus dan pekerja sosial di masyarakatnya.
            Namun perjalanan sejarah Islam harus bersentuhan dengan budaya perluasan seperti Persia, Asiria dan sebagainya yang msih patriarkis. Hal itu mempengaruhi penafsiran dan pemaknaan terhadap ayat – ayat suci yang telah ada sehingga kesan dominasi laki – laki menjadi makin kental. Celakanya umat Islam banyak yang terjebak sehingga menganggap bahwa itu adalah ajaran agama yang paten, tidak dapat di ubah. Oleh karena itu, perlu kiranya dilakukan usaha untuk membongkar, memperluas pemahaman terhadap teks – teks agama yang menjadi alat legitimasi bagi pola pikir bersifat patriarki yang jauh dari keadilan gender.
            Perlu dipahami terlebih dahulu apa spirit yang dibawa Islam pada awal kelahirannya. Pada zaman pra – Islam atau sering disebut zaman Jahiliyah, kedudukan perempuan sangat rendah posisinya. Yang menonjol diantaranya ialah, bahwa jika seorang suami meninggal dunia, saudara laki – laki lainnya mendapat waris untuk memiliki jandanya[7]. Bahkan kebiasaan mengubur bayi perempuan pun menjadi hal yang merendahkan perempuan. Untuk itu Islam hadir dengan Al – Qur’an sebagai rujukan prinsip masyarakat Islam yang mengakui bahwa kedudukan laki – laki dan perempuan adalah sama dimana yang satu tidak memilki keunggulan terhadap yang lainnya. Bahkan Al – Qur’an tidak menjelaskan secara tegas bahwa Hawa diciptakan dari tulang rusuk Nabi Adam sehingga kedudukan dan statusnya lebih rendah.[8] Atas dasar itu, kedudukan laki – laki dan perempuan dalam Al – Qur’an adalah sama.
            Asal mula datangnya pemikiran yang telah menjadi tradisi dan tafsir agama yang meletakkan posisi perempuan lebih rendah dari laki – laki antara lain pengaruh kultur Timur Tengah abad pertengahan yang menjelaskan tipe ideal kaum perempuan yang seolah memperkokoh kedudukan perempuan yang semuanya dianggap mewakili pandangan resmi Islam. Seorang penulis Muslim yang mewakili kultur pada zamannya menjelaskan tipe perempuan ideal menurutnya adalah:
Perempuan yang jarang bicara atau ketawa.
Dia tak pernah meninggalkan rumah,
walaupun untuk menjenguk tetangganya
atau sahabatnya.
Ia tidak memiliki teman perempuan,
dan tidak percaya terhadap siapa saja
kecuali kepada suaminya.
Dia tidak menerima apapun dari orang
lain kecuali dari suami dan orang tuanya.
Jika dia bertemu dengan sanak keluarganya,
dia tidak mencampuri urusan mereka.
Dia harus membantu segala urusan suaminya,
tidak boleh banyak menuntut
ataupun bersedih.
Ia tak boleh tertawa selagi suaminya
bersedih, dan senantiasa menghiburnya.
Dia menyerahkan diri hanya kepada suaminya,
meskipun jika control akan membunuhya.
Perempuan seperti itu
adalah yang dihormati oleh semua orang[9]

            Kultur seperti itu di masyarakat masih di pertahankan, namun di berbagai masyarakat Muslim tidak lagi dan kultur patriarki sangat ikut andil melanggengkan ketidakadilan gender. Diperlukan kajian kritis guna mengakhiri bias dan legitimasi masyarakat dalam tafsiran agama. Maka diperlukan proses kolektif yang mengombinasikan studi, investigasi, analisis serta aksi untuk membahas isu perempuan. Memberikan semangat untuk menciptakan kemungkinan bagi perempuan untuk membuat, mengontrol dan menggunakan pengetahuannya sendiri.
Ketidakadilan Gender Harus Dihentikan
            Memperjungkan keadilan gender merupakan tugas yang berat, karena masalah gender adalah masalah yang sering diperbincangkan, dimana masing – masing dari kita bisa terlibat secara emosional. Pemahaman mengenai buruknya gender sedikit demi sedikit harus  di hilangkan dan di ganti dengan pemahaman – pemahaman yang baik mengenai misi dari pergerakan gender. Legitimasi atas ayat – ayat al – qur’an yang membuatnya menjadi sebuah kepatenan dan kemutlakan itulah yang harus bisa di rubah menjadi sebuah pemikiran – pemikiran luas namun tetap berada dalam konteks yang benar supaya perempuan tidak lagi menjadi kaum termarjinalkan.
            Perlu adanya upaya – upaya bersifat jangka pendek yang mampu menyelesaikan masalah ketidakadilan tersebut. Misalnya dalam hal mengatasi masalah marginalisasi perempuan, perlu adanya keaktifan dan kesadaran dari diri perempuan itu sendiri bahwasanya perempuan pun harus ikut andil dalam program pengembangan masyarakat serta berbagai kegiatan yang memungkinkan perempuan terlibat dan berpera dalam menjalankan kekuasaan di sector public. Upaya pelaksanaan pendidikan dan mengaktifkan berbagai organisasi atau kelompok perempuan pun bisa menjadi salah satu cara untuk jangka pendek.
            Sama hal nya dalam menghentikan masalah kekerasan, pelecehan dan berbagai stereotype terhadap kaum perempuan, aksi jangka pendek pun perlu mulai di tampakkan. Kaum perempuan sendiri harus mulai memberikan pesan penolakan terhadap tindak penindasan yang merugikan pihak perempuan agar tindakan tersebut bisa terhenti. Melakukan upaya pendidikan dengan cara kampanye antikekerasan dan antipelecehan pun bisa menjadi alternative usaha untuk menghilangkan ketidakadilan gender. Memberi pemahaman bahwasanya pergerakan gender adalah sebuah usaha perempuan untuk bisa mendapatkan haknya, karena pada hakekatnya setiap manusia adalh bebas, tidak terkekang pada sebuah aturan yang dapat merugikannya, dalam konteks yang baik. Misalnya, kebebasan dan kesempatan yang sama untuk merasakan dunia pendidikan, aktif di ranah public, dan lain sebagainya.
            Kemudian usaha jangka panjang perlu dilakukan untuk memperkokoh usaha praktis jangka pendek tersebut. Mengingat usaha – usaha praktis seringkali berhenti dan tidak mendapatkan hasil sehingga masyarakat justru akan menyalahkan korbannya, maka perjuangan strategi ini meliputi perang ideologis. Misalnya melancarkan kampanye kesadaran kritis dan pendidikan umum masyarakat. Kemudian sebagai upaya pendukung dapat melakukan studi tentang berbagai bentuk ketidakadilan gender dan manifestasinya baik di masyarakat maupun di Negara. Bahan kajian ini selanjutnya dapat dipakai untuk melakukan advokasi guna mencapai perubahan kebijakan, hukum dan aturan pemerintah yang dinilaitidak adil terhadap kaum perempuan.

 KESIMPULAN
Gender bukanlah hal yang membicarakan tentang alat kelamin (seks) melainkan sebuah kesetaraan sosial di pandangan masyarakat yang selama ini telah menjadi satu hal kekeliruan, di mana gender dianggap sebuah legitimasi, kemutlakan dan suatu hal yang tidak dapat diubah. Dari itu perjuangan tentang kesadaran gender muncul untuk mengklarifikasi hal yang sudah terlanjur di anggap kemutlakan itu. Kesetraan gender merupakan hal yang menitik beratkan pada persamaan hak dan kewajiban yang dimiliki oleh perempuan dan laki-laki tanpa ada yang memiliki hak dan kewajiban yang lebih tinggi antara satu dengan yang lain.


DAFTAR PUSTAKA

Armando R,Jifara Sniper Wanita Di Perang Suriah,Niaga swadaya,Jakarta:2013
Elshazley Kariem,Muslimah Ideal Membangun Kepribadian Muslimah Sukses,Media Ekasarana,Jakarta:2013
Fakih Mansour, Analisis Gender & Transformasi Sosial, Pustaka Pelajar, Yogyakarta: 1996
Hamka,Buya Hamka Berbicara tentang Perempuan,Gema Insani,Jakarta:2014
Kamaludiningrat Ahmad Muhsin,Badriyah Fayumi,dkk,Wacana Fiqih Perempuan,UHAMKA PRESS,Jakarta:2005
Mujibatun Siti,Pemahaman Islam dan Tantangan Keadilan Jender, Gama Media,Yogyakart: 2002
Mutawalli Muhammad,Problem Perempuan Islam,Mahkota Press,Jakarta:1993
Wibisono Abdul Fatah,Afni Rasyid,dkk,Muamalah Duniawiyah,UHAMKA PRESS,Jakarta:2007


[1] Muhammad Mutawalli,Problem Perempuan Islam,Mahkota Press,Jakarta:1993, hal.13
[2] Siti Mujibatun, Pemahaman Islam dan Tantangan Keadilan Jender, Yogyakarta: Gama Media, 2002, h.45
[3] Kariem Elshazley,Muslimah Ideal Membangun Kepribadian Muslimah Sukse,Media Ekasarana,Jakarta:2013,hal.3
[4] R.Armando,Jifara Sniper Wanita Di Perang Suriah,Niaga swadaya,Jakarta:2013,hal.7
[5] Ibid,hal. 137
[6] Ibid,hal.132
[7] Mansour Fakih, Analisis Gender & Transformasi Sosial, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1996, h.129
[8] Ibid. h.130
[9] Ibid. h.131

Kamis, 05 Juni 2014

Muktamar IMM XVI di Solo



Ini adalah beberapa foto kegiatan Muktamar IMM ke XVI di Solo... Selain kegiatan utama yaitu sidang penentuan kepemimpian selanjutnya, ada pula beberapa acara yang menarik sekali. Ada acara seminar bersama Pak Amien Rais mengenai "Politik Islam guna Indonesia Berkemajuan" ada juga Panggung Budaya Pengkaderan dimana terdapat berbagai kegiatan salah satunya adalah pembedahan buku tentang "Genealogi Kaum Merah (Pemikiran dan Gerakan)" bersama Kakanda IMMwan Sobar Hatta Johari (Instruktur DPP IMM), Kakanda IMMwan Abdul Halim Sani (Penulis Buku "Manifesto Gerakan Intelektual Profetik") dan Kakanda IMMwan Ahmad Janan F. (Wakil Direktur MIM Indigenous School) .
Menolak Tunduk Bangkit Melawan Atau Mati Demi Islam Karena Mundur Adalah Sebuah Penghianatan
Fastabiqul Khairat

Pembukaan Muktamar XVI IMM di Solo